Kuliah Umum Dirut PJB di Universitas Peradaban

Sobat PJB, Direktur Utama PT PJB Ir. Iwan Agung Firstantara, M.M memberikan kuliah umum bertema “Profil Ketenagalistrikan Indonesia dan Revolusi Industri 4.0” di Universitas Peradaban, Brebes pada Sabtu (13/5). Kuliah disampaikan di dalam masjid kampus dan dihadiri sekitar 400 mahasiswa. Sebelumnya, diadakan sesi ramah tamah dengan Rektor, Jajaran Dosen dan Pengurus Yayasan Wakaf Ta’allumul Huda di ruang rapat lantai 1.

Pada awal paparannya, Direktur Utama (Dirut) PT PJB menyampaikan pengetahuan umum terkait sistem kelistrikan Indonesia yang dibagi menjadi tiga bagian, meliputi pembangkitan, transmisi dan distribusi. Posisi PT PJB berada pada fungsi pembangkit yang saat ini kegiatan usahanya tidak hanya di Jawa Bali saja melainkan sudah merambah hampir seluruh wilayah Indonesia dari Aceh sampai Tidore. Dengan total aset yang dimiliki sebesar Rp 193,3 (TW-1 2017), PJB merupakan perusahaan besar dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan energi di tanah air.

Selanjutnya Dirut menjelaskan Revolusi Industri 4.0 dan perkembangan bisnis pada era Internet of Things (Iot). Perubahan cara-cara berbisnis yang dulunya sangat menekankan owning (kepemilikan) menjadi sharing (saling berbagi peran, kolaborasi resources). Era IoT mendorong perubahan yang menyebabkan:
Penghematan biaya melalui proses bisnis yang menjadi lebih simpel


Membuat kualitas yang dihasilkannya lebih baik
Berpotensi menciptakan pasar baru, atau membuat mereka yang selama ini ter-eksklusi menjadi ter-inklusi
Produk/jasa lebih mudah diakses atau dijangkau oleh para penggunanya
Membuat segala sesuatu kini menjadi serba smart(lebih pintar, lebih menghemat waktu dan lebih akurat)

Iwan Agung membandingkan valuasi perusahaan transportasi online dan konvensional. Nilai valuasi Go-Jek saat ini Rp 17 T sedangkan Garuda Indonesia hanya Rp 12,3 T dan perusahaan taksi Blue Bird hanya Rp 9,8 T. Sebagai gambaran bisnis era sharing saat ini, beliau menceritakan usaha persewaan baju pesta menggunakan metode kerjasama dengan desainer dan diantarkan melalui kurir. Pemilik bisnis persewaan baju pesta tersebut justru tidak mempunyai baju pesta sama sekali.

Dampak Internet of Things juga merambah hingga dunia pembangkitan. Saat ini perkembangan teknologi digital memasuki fase Big Data, Analytics, Visualization dan IoT serta Smart Machine. PJB sedang mengembangkan Remote Engineering Monitoring Diagnoztic and Optimization (REMDO). Dengan sistem REMDO pembangkit dapat dimonitor secara realtime dan dioperasikan kapanpun dan dimanapun.

Untuk memberikan gambaran dan motivasi kepada mahasiswa, Dirut PT PJB membawakan satu tema tambahan yaitu “Ada Apa dengan Mahasiswa?”. Di awal presentasinya beliau menanyakan tujuan para mahasiswa setelah lulus. Apakah mereka akan melanjutkan studi ke S2, menikah atau bekerja. Pertanyaan itu dilontarkan untuk menggugah kesadaran mahasiswa terkait visi hidupnya. Kemudian dijelaskan tentang pentingnya visi bagi kehidupan dimana visi tersebut harus jelas dan detail. Adanya visi akan menggerakan seluruh sumberdaya yang ada baik sadar maupun tidak sadar untuk mencapai visi tersebut.

Menemukan keunggulan dan kompetensi diri merupakan hal penting yang harus dilakukan para mahasiswa agar dapat meningkatkan dan mengasah keunggulannya. Selain itu mahasiswa juga harus memiliki modal utama berupa ntegritas, antusias dan kapabilitas (knowledge, skill, attitude).

Pada akhir presentasinya, Dirut menuturkan keunggulan dan kelemahan Gen Y, yang merupakan generasi mahasiswa saat ini. Antara lain Gen Y lebih melek teknologi, fun dan active serta berorientasi pada hasil. Namun kekurangan Gen Y too high expectations, “kutu loncat”, individualias dan maunya serba instan.

Kuliah Umum ditutup dengan penandatanganan NotaKesepahaman menyangkut pelaksanaan kerja praktek, magang dan penelitian mahasiswa serta dosen Universitas Peradaban di PT Pembangkitan Jawa-Bali.

Universitas Peradaban merupakan perguruan tinggi swasta yang berkedudukan di Jalan Raya Pagojengan Km 3 Kec. Paguyangan – Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Universitas yang didirikan tahun 2014 ini merupakan pengembangan dari STKIP – STIE ISLAM BUMIAYU. Prof. Dr. Yahya A. Muhaimin, Mendiknas era Presiden Abdurrahman Wahid merupakan tokoh dibalik pendirian universitas tersebut. Pria asli kelahiran kota Bumiayu itu bercita-cita membangun kota kecil Bumiayu dengan mendirikan sebuah universitas yang kemudian diberi nama “ UNIVERSITAS PERADABAN”.

Universitas Peradaban saat in memiliki empat fakultas antara lain Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan; Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik; Fakultas Ekonomi & Bisnis; serta Fakultas Sains & Teknologi. Universitas ini membuka 15 program studi baik jenjang S1 maupun D3. (Sae)